Sign in

jILID 2 NAga Beracun → Cerita

jilid 2 cerita naga beracun — Bagian I

Jilid 02
Gan Lui terkejut, karena datangnya tamparan demikian cepatnya, maka dia lalu mengangkat kedua lengannya untuk menangkis sambil mengerahkan sin-kang sekuatnya.

“Plakkk!” Kedua tangan Gan Lui bertemu dengan tangan kanan Pangeran Cian Bu Ong dan akibatnya tubuh Gan Lui terjengkang dan terguling-guling seperti dilanda angin badai yang amat kuat.

Gan Lui terkejut bukan main. Untung lawannya tidak ingin mencelakainya sehingga dia tidak terluka. Dia melompat bangun dan cepat memberi hormat dengan hati tulus.

“Saya mengaku kalah!”

Pangeran Cian Bu Ong hanya tersenyum dan memberi isyarat kepada Gan Lui untuk duduk di atas bangku. Kemudian ia kembali ke mejanya, memeriksa kertas catatan.”Siapa yang bernama Lie Koan Tek?”

Orang ke dua maju dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.

“Saya yang bernama Lie Koan Tek, Pangeran.” kata orang ini dengan lantang.

Cian Bu Ong mengamati penuh perhatian. Dari catatannya dia mengetahui bahwa laki-laki berusia empatpuluh lima tahun yang tinggi besar dan gagah perkasa ini adalah seorang pendekar gagah murid Siauw-lim-pai. Dia dihukum karena bersikap memberontak terhadap Kerajaan Sui, dan hal ini mudah dimengerti kalau diingat betapa kuil Siauw lim-pai pernah dibakar oleh pasukan pemerintah dan banyak sekali murid Siauw lim-pai yang tewas.

“Lie Koan Tek, bagaimana engkau tahu bahwa aku seorang pangeran?”

“Nama besar paduka sudah terkenal di seluruh penjuru,” kata Lie Koan Tek yang berwatak keras dan jujur itu.

“Kalau engkau mau kubebaskan dan membantuku, perlihatkan kemampuanmu Lie Koan Tek,” kata Pangeran Cian Bu Ong.

Lie Koan Tek mengerahkan tenaga dan rantai pada belenggu kaki tangannya juga patah-patah seperti yang terjaadi pada Gan Lui tadi.

“Bagus.! Sekarang, kau boleh menyerangku dan keluarkan semua kepandaian dan tenagamu!”

Tanpa sungkan lagi Lie Koan Tek lalu menggerakkan kaki tangannya menyerang, mengeluarkan jurus-jurus Siauw lim-pai yang paling tangguh yang dikuasainya.

Pangeran Cian Bu Ong gembira sekali. Pendekar ini lebih unggul dibandingkan Gan Lui. Walau selisihnya hanya sedikit. Diapun melayani sampai belasan jurus, kemudian sapuan kakinya membuat Lie Koan Tek terpelanting.

Pendekar ini kagum bukan main. Jarang dia bertemu dengan orang selihai pangeran ini, dan dia mengakui kebesaran nama Pangeran Cian Bu Ong. Dia menjura dan mengaku kalah. Pangeran Cian Bu Ong persilakan dia duduk di samping Gan Lui.

Orang ke tiga adalah Thio Ki Lok, berusia limapuluh tahun, dihukum karena dia perampok tunggal yang sadis dan lihai., Tubuhnya pendek dengan perut gendut, wajahnya kekanak-kanakan, akan tetapi pandang matanya licik dan kejam.

Selain ilmu silat, dia pandai ilmu gulat Mongol, dan senjata andalannya adalah golok gergaji. Karena tingkat kepandaiannya masih sedikit di bawah Gan Lui, maka dalam belasan jurus diapun dikalahkan Pangeran Cian Bu Ong.

Orang ke empat adalah seorang peranakan Turki, bernama Gulana. Kulitnya hitam seperti arang, tubuhnya tinggi besar dan rambutnya yang hitam panjang digelung, ditutup sorban putih. Dia menguasal ilmu silat yang aneh, lengannya yang panjang itu berbahaya sekali, karena dia pandai menangkap dan membanting lawan.

Juga kakinya yang panjang pandai mengirim tendangan kilat. Senjata yang biasa dia mainkan adalah tongkat baja.

Diapun memiliki kepandaian yang setingkat dengan Gan Lui, dan dirobohkan oleh Pangeran Cian Bu Ong dalam belasan jurus. Sikapnya yang angkuh berubah setelah dia merasakan sendiri kehebatan pangeran itu dan diapun mengaku kalah.

Kini Pangeran Cian Bu Ong menghadapi orang ke lima. Dari catatannya dia tahu bahwa orang ini yang paling tangguh di antara mereka semua, maka sengaja dia menghadapinya sebagai orang terakhir. Sebelum bicara, dia mengamati dengan penuh perhatian dan memandang kagum. Orang itu masih muda sekali, tidak akan lebih dari duapuluh tujuh tahun usianya.

Wajahnya tampan sekali dan sikapnya juga lembut, sama sekali tidak pantas menjadi orang hukuman. Matanya mencorong seperti mata naga. Hidungnya agak besar dan mancung, bibirnya merah penuh gairah. Melihat tubuhnya yang sedang dan sikapnya yang lembut, orang takkan menyangka dia pandai ilmu silat. Lebih pantas menjadi seorang siu-cay (pelajar) yang pandai menulis sajak.

“Namamu Can Hong San?” tanya Pangeran Cian Bu Ong.

Pemuda itu mengangguk, sikapnya angkuh. Pemuda ini memang bukan orang sembarangan. Dia adalah putera tunggal mendiang Cui-beng Sai-kong, seorang datuk besar dunia sesat, pendiri dari agama sesat Thian te-kauw. Pemuda yang tampan dan nampak halus lembut ini adalah seorang yang memiliki watak aneh, hampir tidak normal, bahkan dia telah membunuh ayahnya sendiri. Kemudian, dia pernah menjadi pemimpin besar perkumpulan sesat dari agama Thian-te-kauw yang didirikan ayahnya. Ketika perkumpulan sesat ini diserbu oleh pasukan pemerintah yang dibantu para pendekar, diapun tertawan, perkumpulannya hancur dan dia dijatuhi hukuman seumur hidup.

“Bagaimana, Can Hong San. maukah engkau membantu kami seperti empat orang gagah lainnya ini?” tanya Pangeran Cian Bu Ong.

“Nanti dulu, Pangeran. Sebelum aku memberi jawaban, aku harus mengetahui dulu,bantuan apa yang harus kuberikan kepadamu?”

Biarpun ucapannya lembut dan sopan, namun kata-katanya menunjukkan bahwa dia tidak mau merendahkan diri kepada pangeran ini. Dia tahu bahwa Kerajaan Sui sudah jatuh, sehingga pangeran ini sekarang sudah bukan pangeran lagi namanya! Dan bukan watak Coa Hong San untuk merendahkan diri kepada siapapun juga.

Melihat sikap pemuda ini yang tidak menghormatinya, Pangeran Cian Bu Ong tidak menjadi marah, bahkan tersenyum. Lebih baik menghadapi orang yang terang-terangan tidak menghormatinya dari pada orang yang bersikap menjilat namun tidak diketahuinya benar bagaimana keadaan isi hatinya! Akan tetapi ia masih memancing dan pura-pura kurang senang, dan mengerutkan alisnya.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store